728 x 90

Negara Harus Siap Bonus Demografi

Negara Harus Siap Bonus Demografi
Negara Harus Siap Bonus Demografi

HASIL kajian demografi dan perhitungan proyeksi penduduk memperkirakan bahwa Indonesia akan mengalami bonus demografi yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2020-2030 mendatang. Bonus demografi ditandai dengan meningkatkan proporsi penduduk usia kerja.

Hal ini tentunya menguntungkan negara secara ekonomi apabila dikelola dengan baik. Berdasarkan estimasi para ahli, porsi penduduk usia produktif atau usia kerja antara 15-64 tahun pada tahun 2020-2030 mencapai sekitar 70% dari total populasi. Sehingga beban tanggungan penduduk berusia produktif menurun atau menjadi rendah, yakni antara 0,4-0,5.

Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif hanya menanggung 40-50 penduduk non produktif. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Surya Chandra Surapaty mengungkapkan, dalam menghadapi bonus demografi tersebut terdapat beberapa hal yang perlu menjadi fokus utama.

"Melalui program KKBPK, perlu difokuskan pada kualitas dan kuantitas penduduk yang harus dikendalikan serta mobilitas penduduk yang harus diarahkan," ungkapnya dalam seminar nasional Investasi Pada Remaja Perempuan Pendewasaan Usia Perkawinan Pendidikan Seksual dan Kesehatan Reproduksi Remaja, Jakarta, Senin (22/8).

Ada pun Kependudukan Keluarga Berencana Pembangunan Keluarga (KKBPK) dalam pengendalian kuantitas ialah melalui penundaan kelahiran dan pernikahan dini. Sementara pengendalian kualitas dilakukan dengan memperhatikan jarak kelahiran dari anak ke anak kedua. Ia mengungkapkan bahwa jarak kelahiran anak secara ideal ialah minimal 3-5 tahun.

Namun menurutnya, yang tidak kalah penting guna meningkatkan kualitas bangsa adalah melalui karakter yang mengutamakan integritas, etos kerja, dan gotong royong serta kompetensi masyarakat.

"Nusantara jaya ketika bonus demografi dapat dibangun karakternya," imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama Deputi Kementerian PPN Bappenas Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Subandi Sardjoko memaparkan bahwa laju penduduk diproyeksikan terus menurun, akan tetap jumlah penduduk Indonesia diperkirakan terus meningkat.

Angka tersebut diperkirakan mencapai hingga 305 juta penduduk, dengan jumlah remaja usia 10-19 tahun sebanyak 44-45 juta terhadap total penduduk.

"Tahun 2026 mencapai 50 juta, jika dibagi dengan 305 juta jadi satu per enamnya adalah bonus demografi," paparnya.

Sementara di tahun 2030, diperkirakan jumlah usia produktif antara 15-59 tahun meningkat dari tahun sebelumnya. Menurutnya hal ini dapat menjadikan Indonesia lebih makmur apabila sumber daya manusia (sdm) baik dari sisi kesehatan maupun kompetitif dipersiapkan guna mendapatkan peluang bonus demografi di Indonesia.

Pasalnya, apabila tidak mampu menghadapi kehadiran bonus demografi maka yang terjadi ialah ledakan pengangguran usia produktif yang akan memicu pada berbagai persoalan seperti meningkatnya kriminalitas, meningkatnya beban pemerintah dalam hal kesejahteraan dan sosial, terjadi disparitas pendapatan yang cukup tajam antara yang terampil dan tidak terampil serta meningkatkan persaingan dalam penguasaan sumber daya alam baik rakyat dengan pemerintah, pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dan sebagainya.

Karena itu penyiapan SDM yang mampu bersaing secara global atau mampu menciptakan lapangan pekerjaan dinilai sebagai persyaratan utama. Maka, dibutuhkan peningkatan mutu modal dengan mempertahankan struktur umur penduduk, peningkatan kesehatan, pendidikan dan IPTEK, pendidikan berkualitas dan setara untuk perempuan.

"Secara tidak langsung penundaan perkawinan itu semakin lama kalau perempuan stay lama di sekolah. Lama mengenyam pendidikan sama dengan meningkatkan sdm," ujarnya.

Pasalnya, Pusat Studi Gender Universitas Indonesia Ida Ruwaida Noor menerangkan bahwa fenomea putus sekolah pada anak, khususnya perempuan, masih banyak terjadi. Hal itu diantaranya disebabkan oleh pengaruh lingkungan dan hamil diluar nikah. Menurutnya, nilai-nilai pada remaja dapat ditanamkan melalui pendidikan.

"Sdm dan kompetensi dalam menghadapi bonus demografi. Kalau tidak dipikirkan secara komprehensif akan mengkhawatirkan. Negara harus berbuat banyak," tandasnya. (X-11)

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked with *


0 Komentar

?>